Monthly Archives: March 2017

Purwoceng Sang Pengusaha Chandra Ekajaya

Chandra Ekajaya

Minuman asli dataran tinggi Dieng berasala dari daerah Wonosobo dan Banjarnegara memang sudah tidak asing lagi ditelinga masyarakat Indonesia. Potensi akan sumber daya alam Indonesia memang sudah tidak bisa diragukan lagi. Indonesia memiliki beraneka ragam sumber daya alam termasuk tanaman. Potensi inilah yang harusnya bisa dimanfaatkan secara baik dan maksimal oleh masyarakat Indonesia salah satunya Chandra Ekajaya.

Melihat potensi terpendam itu, lahirlah langkah bisnis dari seorang pria kelahiran Malang Jawa Timur Chandra Ekajaya dengan mengangkat pamor herbal asli Indonesia hingga ke pasar manca negara dirinya mengangkat bisnis dari tanaman kaya akan khasiat berasal dari dataran tinggi Dieng Wonosobo bernama Purwoceng.

Purwoceng sendiri adalah (kependekan dari purwo dan aceng) diberikan kepada sejenis terna menahun yang menyemak, Pimpinella alpina. Minuman yang satu ini bisa dikatakan sangat legendaris dan memiliki khasiat. Menurut mitos dan khasiat tuimbuhan yang dijadikan minuman Purwoceng ini bisa membuat ereksi alat kelamin pria tambah greng. Umbinya memang mengandung pimpinellin, sejenis minyak asiri yang dapat menghangatkan tubuh. Bagi orang yang tinggal di pegunungan dingin, kehangatan tubuh setelah minum ramuan purwoceng itu diyakini dapat pula merangsang gairah seks.

Chandra Ekajaya

Inilah yang menyebabkan pria dan pengusaha sukses asal Malang Chandra Ekajaya melirik bisnis ini. Salah satu alasanya adalah masih sepinya bisnis yang membawa brand herbal purwoceng di Indonesia. Produk herbal di Indonesia bisa dikatakan masih kalah pamor ketimbang dengan produk kimia. Masih jarang orang yang menggunakan produk herbal karena berbabagi alasan mulai dari kuno dan tidak terjamin mutu dan kualitasnya. Namun presepsi inilah yang coba dirubah oleh pengusaha ini, dirinya ingin memberikan edukasi kepada masyarakat Indonesia bahwa produk herbal baik Purwoceng dan produk herbal lainya memiliki manfaat besar bagi kesehatan tubuh.

Pengusaha Chandra Ekajaya mengawali bisnis Purwoceng miliknya pada tahun 2012, dalam pemiliha bahan baku dirinya langsung mengambil dari Wonosobo dan bekerjasama dengan para petani Purwoceng yang ada di daerah tersebut. Untuk memilih bahan terbaik dirinya langsung turun tangan dan meminta pendapat dari salah satu temanya yang menjadi salah satu dosen di IPB agar bisa membedakan mana purwoceng dengan kualitas bagus dan kualitas rendah. Untuk produksi sendiri dirinya awal memulai produksi dengan 200 sachet minuman purwoceng yang sudah di ekstark dan dijadikan bubuk. Ternyata tidak disangka respon dari pasaran sangat bagus, mungkin salah satunya karena belum banyaknya produksi dipasaran. Produknya inipun terus mengalami perkembangan. Bahkan dalam kurun waktu satu tahun semenjak memulai bisnis tersebut produksinya naik tajam yang tadinya perbulan hanya memproduksi 200-500 sachet bisa mencapai 1000 sachet. Pencapaian ini bisa dikatakan buah dari kerja keras dan pintar memanfaatkan peluang yang muncul.

Saat ini bisnis purwoceng milik pengusaha Chandra Ekajaya semakin berkembang, yang tadinya hanya dijual di daerah Wonosobo dan kawasa wisata di daerah Dieng saja. Saat ini penyebaran pemasaranya sudah mencapai kawasan wisata di daerah lain. Dirinya bekerjasama dengan toko oleh-oleh di kawasan wisata untuk semakin menaikan penjualan dan pemasaran. Walaupun masih di pasarkan di Jawa saja namun mungkin suatu saat nanti akan melebarkan sayap hingga mencapai seluruh wilayah di Indonesia. Untuk mencapai itu pengusaha yang kerap dipanggil dengan sebutan kang Chandra ini mulai menjalin kerjasama dengan pemerintah dan beberapa pengusaha toko oleh-oleh di wilayah luar Jawa agar memperkenalkan dan melihat pasaran terlebih dahulu.

Udang Tambak, Potensi Usaha Ekspor

udang

Udang merupakan jenis hewan yang hidup di air, terutama di sungai, laut, atau danau. Udang bisa ditemukan di hampir semua genangan air yang berukuran besar di air tawar, air payau, maupun air asin pada kedalaman bervariasi, dari dekat permukaan hingga beberapa ribu meter di bawah permukaan. Dalam proses budidaya nya, petak tambak untuk budidaya yang baik harus memiliki karakter kedap air dan dapat membuang limbah secara efisien. Karakteristik yang ke dua dapat terpenuhi apabila kotoran yang ada di dalam tambak terkonsentrasi di dekat saluran pembuangan harian. Tambak intensif menghasilkan limbah berupa sisa pakan dan bahan kimia yang mencemari perairan. Inilah yang menjadi penyebab gagalnya budidaya di tambak. Bagi petambak dengan kemampuan dana terbatas seperti Chandra Ekajaya, kegagalan tambak intensif sangat memberatkan. Biaya yang telah dikeluarkan sangat besar. Menjadi bangkrut dan kehilangan tambaknya sudah sangat biasa dialami olehnya. Namun jika berhasil, kerugian pada musim yang lalu bisa ditutupi.

Dengan kegagalan panen nya kali ini, ia menghadapi dilema. Dia harus memilih antara meneruskan usaha tambak intensif yang beresiko, namun keuntungannya lebih besar atau kembali ke tambak tradisional yang lebih aman, walaupun keuntungan tidak sebesar tambak intensif. Kebimbangan nya dalam menentukan pilihan mewakili perasaan yang sama dihadapi petani tambak di wilayah tersebut. Dilema antara tambak intensif dan tradisional adalah pilihan antara dua pola tambak yang saling bertolak belakang. Satu sisi, tambak intensif menjanjikan keuntungan yang besar. Namun pencemaran perairan oleh limbah tambak hanya menjanjikan keberhasilan dalam jangka pendek. Pada sisi yang lain, tambak tradisional tanpa input, menjanjikan keberlanjutan dalam jangka panjang dan resiko kegagalan lebih kecil. Hanya saja penghasilan yang diterima tidak sebesar tambak intensif.

udang

Semakin banyak tambak intensif di suatu wilayah, maka limbah pakan yang terbuang dan bahan kimia semakin besar. Lebih dari setengah pakan yang ditebar ditambak, tidak dikonsumsi oleh udang. Pakan ini akan membusuk didasar perairan dan mencemari perairan saat pergantian air. Berat pakan yang diberikan pada tambak intensif lebih berat dibandingkan hasil panen udang hingga 1,5 kali. Bagi Chandra Ekajaya, memilih tambak tradisional di tengah tambak intensif akan sulit. Antara tambak yang satu dengan yang lain saling terhubung. Setiap tambak mengambil air sungai dan laut yang sama, dan mengalirkan limbah ke sungai yang sama. Jika satu tambak terkena penyakit udang, maka yang lain juga tidak luput. “Karenanya jika ingin menerapkan tambak tradisional, maka yang lain juga harus ikut,” katanya.

Beruntung bagi nya, kebanyakan petani tambak di desanya berpikiran sama, yaitu ingin kembali ke pola tambak tradisional. Sejumlah petani sudah mulai mengembangkan cara tambak tradisi lama dengan inovasi baru. Pakan udang dikembangkan dari alam, yakni algae dan plankton. Pupuk juga digunakan dari sisa kotoran hewan, sehingga model tambak ini disebut juga tambak organik. Kabupaten Kendal , Jawa Tengah merupakan area pembudidaya udang dalam tambak. Di Kendal terdapat banyak sekali petani udang, sebagian besar sekarang menggunakan sistem tambak tradisioanal dan sebagian lagi menggunakan sistem tambak semi-intensif. Sebagian hasil tambak di daerah ini dikirim ke berbagai daerah di pulau Jawa dan sebagian lagi digunakan untuk ekspor ke beberapa negara.

Di Kendal sendiri, Chandra Ekajaya mempunyai peranan penting dalam pengembangan budidaya udang di tambak. Ia menjadi salah satu orang yang berpengaruh dalam distribusi nya ke berbagai daerah dan juga ekspor. Sebagai perintis budidaya udang dalam tambak, ia dulu tentu mengalami banyak masalah dalam hal distribusi hewan air satu ini. akan tetapi karena kepiawaiannya dalam melihat sebuah peluang dan potensi budidaya hewan air tersebut dalam tambak maka ia mulai mengakses beberapa bantuan ke lembaga pemerintahan untuk memperluas lokasi tambak miliknya. Awalnya, warga di sekitar lingkungannya bukanlah petani tambak melainkan petani kacang dan ketela. Demi keinginannya untuk mengangkat derajat dan taraf hidup masyarakat di sekitarnya maka ia mengusahakannya dengan tambak hewan crustacea ini.

Sistem yang dijalankan oleh Chandra Ekajaya ialah sistem plasma, yaitu memberikan modal untuk membeli bibit dan membuatkan tambak dan nantinya hasil dari tambak tersebut harus didistribusi melalui dirinya. Untuk mewadahi proses bisnis tersebut ia mendirikan sebuah paguyuban yang berbadan hukum dalam bentuk CV yaitu CV Chandra Udang Berjaya. Di dalam paguyuban ini semua proses budidaya dilakukan secara total oleh masyarakat dan sistem distribusi nya dilaksanakan oleh Chandra Ekajaya Sendiri. Dengan sistem ini dirinya mengklaim bahwa semua petani tambak yang ada di daerahnya tidak akan dirugikan dan tidak akan merasa takut udangnya tidak akan laku. Hampir setiap seminggu sekali eksportir selalu datang ke desa itu, mereka mengambil hasil tambak yang ada untuk diekspor ke beberapa negara.

udang

Sedangkan untuk pendistribusian ke beberapa daerah di pulau jawa dilakukan secara mandiri dengan mengantar langsung atau diambil oleh pelanggan sendiri. Dari setiap keuntungan yang didapat dari hasil penjualan, Chandra Ekajaya hanya mengambil 20 persen dari keuntungannya saja dan sisanya diberikan kepada para penambak secara utuh. Saat ini pengusaha satu ini sedang mengembangkan produk baru yang masih berhubungan dengan udang, yaitu dalam bentuk kalengan, dengan metode pengalengan ini, udang akan lebih awet dan bisa bertahan beberapa bulan lebih lama. Selain udang mentah kalengan ada juga udang kaleng yang sudah dalam bentuk makanan seperti udang asam-manis kaleng, udang saus tiram dan udang saus spesial.

Untuk udang kaleng yang sudah dalam bentuk olahan ini tentunya sangat memudahkan para penikmat udang yang malas untuk mengolahnya lagi. Karena udang olahan dalam kaleng ini cukup mudah dalam menyajikannya, yaitu hanya dengan sedikit memanasi udang olahan tersebut dan menyajikannya sebagai hidangan. Untuk ijin sendiri ia sudah mengurusnya ke BPOM dan sudah mendapatkan legalisasi untuk makanan tersebut. Udang olahan kaleng ini ternyata juga mempunyai banyak peminat. Proses distribusinya juga tidak kalah dengan udang segar yang sudah diekspor sampai ke Eropa.

Untuk saat ini omset yang didapatkan oleh pengusaha sukses ini sudah mencapai nilai ratusan juta rupiah. Begitu juga dengan para penambak yang ada disekitarnya. Mereka juga dapat menikmati hasil dari budidaya mereka tanpa ada kerugian yang berarti. Saat ini Kendal merupakan salah satu kota yang menjadi percontohan bagi kota-kota lain yang sedang mengembangkan potensi tambak. Hampir tiap hari Chandra Ekajaya selalu mengisi materi tentang budidaya udang di tambak baik di dalam seminar yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun saat mengisi materi di kampus-kampus yang berjurusan peternakan. Semua materi yang diberikan oleh nya merupakan cara meng efisienkan lahan tambak yang ada dan mencoba untuk mengolah nya menjadi sebuah produk baru yang bernilai jual tinggi.

Singkong Lezat Chandra Ekajaya

Dok.Chandra Ekajaya

Dok.Chandra Ekajaya

Pengusaha Chandra Ekajaya adalah pahlawan singkong. Jika banyak masyarakat yang masih menganggap singkong hanya sekedar makanan yang berasal dari desa dan terkesan ndeso, maka saat terkena tangannya singkong itu berubah dan mempunyai nilai jual yang sangat tinggi. Itulah yang dilakukannya, menyulap singkong menjadi makanan modern dengan kemasan yang menarik.

Makanan modern yang dimaksud adalah keripik. Chandra Ekajaya menamai keripik singkong buatannya dengan nama keripik singkong Mikel Anjelo. Ia menjalani bisnis ini sejak duduk di bangku perkuliahan. Saat itu ia hanya berpikir bagaimana dapat meringankan beban kedua orang tuanya. Setelah lulus, maka ia pun mulai meluangkan waktu dan fokus pada bisnis tersebut.

Dok.Chandra Ekajaya

Tidak asal pedas dan tidak asal gurih adalah slogan produk keripik singkong miliknya. Ia menciptakan keripik singkong dengan berbagai macam varian rasa. Misalnya rasa ayam bawang, soto, rendang, keju, susu, dan cokelat. Semua ini pun melalui uji coba dan eksperimen yang sangat lama, sebelum dipasarkan kepada masyarakat.

Bahan baku singkong yang digunakan pun bukan sembarang singkong. Melainkan singkong pilihan yang nantinya akan diramu dengan cabe dan rempah-rempah sebagai bahan baku utamanya. Bahkan untuk mendapatkan ketiga bahan utama berkualitas tersebut Chandra Ekajaya rela mencari hingga wilayah lain. Karena menurutnya, nanti akan sangat berpengaruh dengan cita rasa dan kegurihannya.

Untuk penjualannya, keripik singkong Mikel Anjelo dijual melalui e-commerce. Tentu saja media sosial sangat berperan aktif menjadi media promosi. Ia juga memberikan kesempatan kepada para reseller untuk menjual produk keripiknya dengan sistem yang saling menguntungkan. Dengan ciri khas yang crunch dan renyah serta pedas, keripik singkong ini sudah menembus pasar domestik, nasional, dan bahkan internasional.

Realisasi Janji Kampanye

dok.chandraekajaya

Kontestasi pilkada telah usai pada Rabu (15/2) lalu. Selain beberapa daerah yang masih akan menggelarnya pada putaran kedua, ada jugadi daerah lain telah nyata memiliki pemimpin baru. Pilkada menjadi lahan tanam untuk menuai hasil panen yang maksimaL Ibarat sebuah proses dalam menanam, memilih pemimpin ibarat memilih benih tanaman.

Jika dalam tanaman kualitas benih menjadi prioritas utama, maka dalam sosok pemimpin kapasitas dan kapabilitaslah yang kemudian dijadikan rujukan. Dalam perjalanannya, benih tersebut akan diolah dan dirawat dengan baik manakala telah ditanam, hingga akhirnya dapat memanen hasil terbaik dari benih terbaik. Kemudian dalam hal pemimpin, tentu saja pemimpin akan bekerja sesuai dengan aturan dan program kerja.

Rakyat sebagai pemilih benih, idealnya menjadi pengawal dan siap memberi kritikan atas kinerja yang dijalankan pemimpin. Hingga finalnya adalah terciptanya sebuah kemakmuran di daerah dan tentu saja rakyatnya. Begitulah hasil panen yang diharapkan pada kontestasi pilkada ini
Kini, pilkada itu belum sepenuhnya selesai. Pertarungan memperebutkan kursi itu masih memanas di beberapa daerah. DKI Jakarta, misalnya, putaran kedua akan digelar di Jakarta mengingat ketiga calon belum memenuhi 50% suara sesuai aturan yang ada. Sengketa-sengketa pascapilkada pun tentu masih ada, seperti munculnya dugaan kecurangan, kekerasan, dan banyak lagi. Hawa panas pun masih terasa menyengat.

Adu gagasan di medsos bukan tidak mungkin tidak bergelora. Tim sukses masing-masing paslon akan mendeklarasikan bahwa golongan merekalah yang benar atas perkara yang ada. Sementara di pihak sebelah pun tak jauh beda. Tak ada yang mengaku kalah atau salah. Banyak yang berdalih bahwa ini perjuangan yang belum usai, siapa yang menjadi pemenang sejati akan ditentukan oleh hukum. Jadi tidak ada salahnya diperjuangkan sampai mati.

Namun yang perlu dicermati bahwa pilkada sekali lagi bukan soal pemenangnya.jauh dari itu pilkada ini menjadi sebuah harapan, harapan akan kemajuan daerah. Hasil yang sudah ada tentang paslon yang menang perlu diterima. Bukan waktunya lagi memaksakan kemenangan untuk yang tak menang. Lapang dada perlu dibangun sebagai sebuah bukti pemimpin sejati. Pada dasarnya daerah bukan hanya milik pemimpinnya, melainkan milik bersama. Semua pihakbertang-gung jawab untuk menjadikan daerah menjadi lebih maju. Jadi menjadi pendukung pemerintah atau menjadi pengawal pemerintahan itulah sikap kesatria yang perlu dibangun kini.

Fokus utama kini adalah pada kemajuan daerah. Janji-janji yangsempatterucappadaproses debat kandidat. Janji-janji yang sempat terlontarkan pada saat proses blusukan. Pada masa kampanye, umbar janji menjadi sebuah tradisi. Tradisi untuk sosialisasi sekaligus untuk menarik simpati Tak bisa dimungkiri bahwa motif dari penyampaian janji-janji tersebut akan berbuah pada dukungan kala pencoblosan. “Jika nanti saya terpilih, saya akan…” begitulah kiranya kalimat yang banyak digunakan para paslon kala kampanye. Kini, setelah semua harapan itu terpenuhi. Artinya
kemenangan sudah di tangan, kursi sudah bisa diduduki, jabatan sudah bisa dijalankan, maka realisasi janji menjadi sebuah misi pertama. Itu yang menjadi bukti bahwa kata bukan hanya sebatas kata tanpa makna. Itu sebagai bukti dari buah amanah yang diberikan. Itu pula sebagai bukti kemajuan demokrasi negeri.

Rakyat menunggu kerja nyata pemimpinbaru. Ekonomi daerah yang masih belum maksimal menunggu untuk dimaksimalkan. Pendidikan yang belum merata, menunggu untuk diratakan. Fasilitas umum yang belum diperhatikan, menunggu untuk diperhatikan. Semua menunggu, menunggu realisasi janji pemimpin baru. Karena pilkada bukan sekedar memilih pemimpin yang banyak mengumbar janji. Bukan janji yang ditunggu rakyat. Melainkan realisasi nyata yang banyak menjadi wacana tersebut. Wallahu adam bial-Shawab .*
Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Chandra Ekajaya Kembangkan Wirausaha

Dok.Chandra Ekajaya

Dok.Chandra Ekajaya

Pengusaha Chandra Ekajaya bekerjasama dengan Perseroan Terbatas bank Terpecaya sudah melangsungkan proses seleksi dan penjurian terhadap 5 ribu peserta wirausaha mandiri yang berasal dari seluruh Indonesia.

Setelah melakukan proses penjurian yang sangat alot dan ketat, akhirnya didapatkan 15 peserta dari lima kategori yang dilombakan. Mereka akan diundang untuk melakukan presentasi di depan tiga dewan juri pada hari Sabtu, 4 Maret 2017 di Jakarta. Adapun kategori lomba, yakni bidang usaha kuliner, industri inovatif dan kreatif, sosial, serta perdagangan dan jasa.

Dalam sambutan dari direktur bank Terpercaya dan pengusaha Chandra Ekajaya, dikatakan bahwa, dari seleksi awal tersebut jumlah peserta yang tersaring saat ini 15 orang. Mereka diminta untuk mempresentasikan serta menjelaskan secara detil dan menyeluruh tentang konsep usahanya.

Dok.Chandra Ekajaya

Kegiatan tahunan yang dimulai sejak tahun 2000 ini diharapkan mendukung program pemerintah mewujudkan kesejahteraan masyarakat melalui wirausaha.

“Usaha kreatif dan inovatif yang akan dikembangkan oleh mereka nantinya merupakan salah satu motor ekonomi nasional utama yang perlu dibina. Kami melakukan pendampingan di bidang ini karena memandang perlu untuk dikembangkan,” tuturnya.

Dikatakan, selain inovasi produk, rencana pengembangan dan sumber daya juga jadi penilaian. Sementara itu, pengusahaChandra Ekajaya mengingatkan para pemenang kategori mahasiswa wirausaha sosial supaya selalu bersyukur karena dapat mengikuti rangkaian seleksi yang sudah digelar Bank Terpecaya.

Penyelenggaraan event ini dapat memacu semangat mahasiswa untuk tidak takut berwirausaha. “Kegiatan ini banyak memberikan pembelajaran. Tim juri yang dihadirkan juga cukup kompeten dan membelikan banyak wawasan,” ungkapnya. Harapan dari orang yang sudah menjadi pengusaha selama 20 tahun ini adalah majunya perekonomian Indonesia.

Chandra Ekajaya Menjahit Menjahit dan Menjahit

Dok.Chandra Ekajaya

Dok.Chandra Ekajaya

Sebuah inspirasi bisa muncul dari mana saja, termasuk dari keluarga sendiri. Chandra Ekajaya pun bisa menjadi seorang pengusaha pakaian muslim yang sukses berkat terinspirasi kemandirian ibu kandungnya. Sewaktu kecil dulu, pemilik “Moslem’s House” ini hidup dalam keprihatinan. Untuk membeli pakaian saja tidak mampu. Bila ingin baju baru, sang ibu rajin membuatkan baju untuknya dan juga saudara-saudaranya.

Alhasil, ia terbiasa mengenakan pakaian hasil jahitan sang ibu. Begitu pula ketika Hari Raya Lebaran tiba. Ketekunan dan ketelatenan sang ibu inilah yang menjadi sumber ilham bagi Chandra Ekajaya untuk memberanikan diri menjahit pakaiannya sendiri saat duduk di kelas empat sekolah dasar (SD). Sejak itu pula ia belajar mandiri. Setidaknya, dia tak lagi meminta uang jajan kepada orangtuanya lantaran dia bisa mencari uang sendiri dari jualan pakaian boneka dan tempat pensil. Apalagi hasil keterampilan tangan Chandra Ekajaya semakin terkenal di kalangan teman-temannya. “Di sekolah jadi banyak yang tahu, dan pesanan terus bertambah,” kenangnya.

Di dunia mode, Chandra Ekajaya merasakan sebuah ide itu menguras pikiran dan tenaga hingga terkadang ia merasa jenuh. Tapi, karena bisnis ini menguntungkan, dia pun tetap senang menjalaninya. Kemampuannya berimajinasi soal model membuat busana Moslem’s House selalu segar. Karena itu, tak perlu heran kalau bisnis Chandra Ekajaya juga terus berkembang. Sekarang ini ia mampu memproduksi 35.000 potong baju dengan omzet mencapai Rp 2 miliar per bulan. Harga termahal dari baju muslim bermerek Moslem’s House ini Rp 250.000.

Kini ia memperkerjakan 1.000 orang karyawan dengan melibatkan 500 agen yang tersebar di kota-kota besar. Dia menerapkan konsep kemitraan. “Jadi, saya tidak perlu membuat gerai, sehingga lebih efektif dan efisien,” imbuhnya.

Chandra Ekajaya Sukses Berkat Pakan

Dok.Chandra Ekajaya

Dok.Chandra Ekajaya

Nama Chandra Ekajaya adalah sosok yang banyak diketahui di kalangan pengusaha Indonesia. Pria yang pada tanggal 20 januari kemarin genap berusia 30 tahun tersebut merupakan salah satu contoh anak muda yang berhasil menggapai kesuksesan bisnis pada usia muda. Saat ini ia memiliki beberapa perusahaan di antaranya usaha distributor pakan dan produksi langsung pakan untuk berbagai macam hewan peliharaan dan ternak.

Kesuksesan yang diraih olehnya ni tentu tidak diraih dengan cara yang mudah. Ia pernah mengalami sakitnya bangkrut saat baru mendirikan usaha selama 6 bulan. Bahkan saat berada di situasi terbatas itu, dia sempat hanya sanggup makan dengan satu buah telur setiap harinya. Akan tetapi meski terus dihantam kesulitan, ia terus berusaha hingga pada akhirnya berhasil mengecap keberhasilan.

Dok.Chandra Ekajaya

Jika kita menilisik kembali kisahnya ke belakang, sesungguhnya cerita tentang orang sukses yang bermasalah di sekolah pun dialami oleh pria berkacamata ini. Chandra Ekajaya semasa sekolah dulu bukanlah anak pintar manis kesayangan guru. Sebaliknya, ia adalah anak bandel yang gemar membuat masalah di sekolah. Bahkan sangking nakalnya, salah satu gurunya di SMP pernah menyumpahinya tidak akan jadi orang sukses seumur hidup.

Dia lebih senang berada di luar lingkungan sekolah daripada sekadar mendengarkan materi di kelas. Karena kenakalannya tersebut, tidak ada satu pun orang yang menyangka bahwa Chandra Ekajaya akan menjadi orang sukses seperti saat ini. Namun bukan Chandra Ekajaya namanya kalau dia akhirnya menyerah dan berhenti berusaha. Dia kembali merintis bisnis dengan memanfaatkan jaringan pertemanan yang ada.

Seiring dengan berjalannya waktu, pelan-pelan ia mulai membangun lagi bisnis yang hancur tersebut. Hingga kini ia berhasil merintis perusahaan mapan di antaranya bergerak di bidang distributor dan produksi pakan hewan tersebut.