Johannes Chandra Ekajaya–MENINGKATKAN MOTIVASI KERJA PEGAWAI

Johannes Chandra Ekajaya–Setiap manusia yang bekerja mencari nafkah harus memiliki motivasi tinggi untuk sukses. Hal ini berlaku umum bagi siapa pun, termasuk kita sebagai Pegawai Negeri Sipil maupun Pegawai Tidak Tetap di lingkungan Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau. Namun sayangnya pandangan yang umum berlaku di masyarakat adalah PNS tidak memiliki motivasi dan etos kerja yang tinggi, dan akibatnya kinerja pun rendah. Pandangan tersebut tidak bisa disalahkan sepenuhnya mengingat ulah beberapa oknum yang merusak citra PNS dengan sikap dan perbuatan mereka masing-masing. Tak bisa dipungkiri masih ada oknum PNS yang tidak bekerja dengan baik, bahkan cenderung asal-asalan, namun mereka petantang-petenteng di balik seragam PNS yang dikenakannya. Namun, apakah kita akan terus membiarkan citra tersebut melekat dalam diri kita? Bagaimana upaya kita untuk mengubah pandangan negatif tersebut?

MENINGKATKAN-MOTIVASI-KERJA-PEGAWAI

Cara terbaik untuk mengubah pandangan negatif masyarakat terhadap kinerja PNS adalah dengan memperbaiki diri kita sendiri. Tak ada gunanya kita berkoar-koar dan marah-marah pada masyarakat yang beranggapan demikian, padahal kita sendiri tidak berniat memperbaiki kinerja sebagai PNS. Untuk memperbaiki kinerja kita, salah satu faktor penting adalah dengan memperbaiki motivasi kerja.

Sebetulnya, apakah yang dimaksud dengan motivasi kerja? Menurut D. Alrisna Sita (2012) dalam kertas kerjanya yang dipublikasikan melalui eprints.uny.ac.id, motivasi kerja adalah dorongan yang tumbuh dalam diri seseorang, baik yang berasal dari dalam dan luar dirinya, untuk melakukan suatu pekerjaan dengan semangat tinggi menggunakan semua kemampuan dan ketrampilan yang dimilikinya, yang bertujuan untuk mendapatkan hasil kerja sehingga mencapai kepuasan sesuai dengan keinginannya. Jadi bisa disimpulkan di sini bahwa dalam motivasi kerja ada faktor pendorong (dari dalam maupun luar diri seseorang), faktor semangat, kemampuan dan ketrampilan, serta adanya tujuan yang hendak dicapai. Hal ini ditambah dengan adanya kepuasan yang dirasakan apabila hasil kerja itu sesuai dengan keinginan. Dengan demikian dapat juga ditarik kesimpulan bahwa hilangnya salah satu faktor tersebut dapat menyebabkan menurunnya motivasi kerja seseorang. Perlu ditambahkan di sini bahwa faktor lingkungan juga bisa mempengaruhi motivasi kerja, mengingat manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan penerimaan, kerjasama, keakraban dan rasa memiliki.

Sebelum membahas bagaimana meningkatkan motivasi kerja, ada baiknya kita ulas sedikit hal-hal yang bisa menyebabkan turunnya motivasi kerja seseorang. Ada beberapa sebab yang mungkin berbeda bagi setiap orang. Bagi si A, sedikitnya pendapatan yang diperoleh dari pekerjaannya bisa membuat dirinya kehilangan motivasi kerja. Sementara si B menunjuk faktor tidak adanya reward-punishment yang jelas di kantornya sebagai penyebab turunnya motivasi kerja. Bagi si C yang memiliki kebutuhan untuk dihargai, tidak adanya perhatian dan penghargaan dari atasan menyebabkan dirinya kehilangan motivasi kerja. Bagi yang lainnya, konflik dalam rumah tangga maupun hubungan dengan kekasih bisa mengakibatkan mereka kehilangan motivasi kerja. Ada juga faktor-faktor lainnya seperti faktor atasan (misalnya cuek terhadap bawahannya, terlalu doyan kerja dan menuntut bawahan untuk bekerja sekeras dirinya padahal gaji tidak seimbang, atasan yang tidak disiplin sehingga berimbas pada suasana kerja yang tidak terkontrol, atasan yang punya banyak side job sehingga mengabaikan tugas-tugas utamanya di kantor, dan lain sebagainya), faktor pribadi (kesehatan yang menurun, hubungan suami-istri yang tidak harmonis, masalah yang dialami anak-anak mereka, terlalu banyak tuntutan dari keluarga yang membuatnya kelabakan untuk memenuhinya, tidak adanya rasa tanggung jawab terhadap pekerjaan karena sebetulnya pegawai itu adalah anak orang kaya yang tidak butuh pekerjaan, merasa tidak mampu karena tidak memiliki kompetensi yang sesuai dengan pekerjaannya, dan lain-lain), maupun faktor-faktor lainnya.

Apapun penyebabnya, turunnya motivasi kerja berimbas sangat besar bagi keberlangsungan organisasi. Bayangkan sebuah organisasi dengan anggota-anggota yang loyo dan tidak bersemangat dalam bekerja, tentu hasil yang dicapai organisasi tersebut tidak akan bagus bukan? Organisasi akan terseok-seok dan bahkan akhirnya bakal tumbang tergilas perkembangan zaman. Untuk itu organisasi harus senantiasa menjaga keberlangsungannya dengan cara memperbaiki motivasi dan kinerja anggota-anggota di dalamnya. Namun, upaya pribadi setiap anggota organisasi dalam memperbaiki dirinya sendiri tentulah jauh lebih efektif ketimbang sekedar menunggu langkah organisasi untuk memperbaikinya.

Bagaimana sebetulnya cara untuk memperbaiki dan meningkatkan motivasi kerja? Mungkin cara paling efektif adalah seperti dalam ilustrasi di atas, yaitu kalimat dari mendiang Steve Jobs, entrepreneur jenius yang juga mantan CEO Apple Inc. Beliau mengatakan bahwa cara satu-satunya untuk melakukan kerja yang hebat adalah dengan mencintai pekerjaan kita. Dengan mencintai pekerjaan, kita akan tertantang dan termotivasi untuk melakukan yang terbaik. Rasa cinta pada pekerjaan membuat kita akan terus berusaha menggali potensi diri dan meningkatkan kompetensi agar bisa memberikan yang terbaik. Kita juga akan berusaha menciptakan situasi yang kondusif, baik dalam keluarga maupun di lingkungan kerja, agar kita merasa tenang dalam melakukan pekerjaan yang kita cintai. Apabila kita bisa bekerja dengan tenang, dalam lingkungan yang kondusif dan dukungan penuh dari keluarga, tentu saja pekerjaan tersebut akan bisa kita kerjakan dengan optimal dan mendapat hasil yang memuaskan pula.

Namun apa jadinya bila situasi ideal tersebut tidak bisa tercapai? Misalnya keluarga yang kurang mendukung, atasan yang pilih kasih, rekan kerja yang iri pada kita dan tega melakukan berbagai cara untuk menjegal kita? Walaupun kita cinta setengah mati pada pekerjaan tersebut, namun dengan situasi yang demikian tentu mau tidak mau akan menyebabkan kita harus berpikir ulang akan pekerjaan tersebut. Semangat kerja yang hilang dan situasi sulit yang dihadapi, bisa saja membuat kita kehilangan arah dan bahkan berpikir untuk meninggalkan pekerjaan tersebut. Sepintas, hal tersebut adalah hal terbaik yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki keadaan.

Sebelum kita mengambil keputusan apapun, ada baiknya kita memikirkan hal-hal berikut ini (kompasiana : Tiga Cara Untuk Meningkatkan Semangat Bekerja, 2013). Pertama, ingatlah kepada orang-orang yang bergantung kepada kita. Misalnya keluarga terdekat kita yang paling terkena dampak dari keputusan-keputusan yang kita ambil. Apabila kita langsung mengambil langkah ekstrem berupa meninggalkan pekerjaan kita, bagaimana dampak yang akan dirasakan oleh keluarga? Tentunya dengan mengingat orang-orang yang tergantung pada kita, akan membuat kita lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan. Kita juga bisa lebih termotivasi dalam pekerjaan.

Yang kedua, ingatlah manfaat yang bisa kita berikan pada orang lain. Karena sebaik-baik manusia, adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Seremeh apapun pekerjaan kita, mungkin kita tidak menyadari betapa besar manfaatnya bagi orang lain. Sehingga dengan selalu mengingat hal ini, kita bisa merasa lebih termotivasi untuk melakukan pekerjaan kita.

Yang terakhir adalah dengan memberi semangat kepada orang lain. Anda mungkin berpikir, kita sendiri sedang tidak bersemangat, bagaimana mungkin bisa memberi semangat pada orang lain? Suntikan semangat yang kita berikan pada orang lain mungkin saja tidak berkaitan dengan pekerjaan sama sekali. Kita bisa memberikan semangat positif dalam masalah keluarga, pergaulan, kesehatan, atau apapun. Semangat yang positif akan menular dan justru membuat kita menjadi lebih bersemangat apabila kita bisa menginspirasi orang lain. Apalagi bila ternyata suntikan semangat yang kita berikan bisa mempengaruhi orang lain untuk menjadi lebih baik. Dengan demikian, kita pun akan menjadi lebih bersemangat dalam menjalani hidup dan pekerjaan kita.

Namun apabila ketiga hal tersebut sudah kita lakukan, juga berbagai upaya telah kita tempuh, namun tetap tidak berhasil, mungkin ada baiknya kita berpikir ulang tentang pindah pekerjaan. Walaupun harus diingat bahwa di mana pun kita berada dan bekerja, tidak tertutup kelak kita akan menemukan situasi yang sama, dan orang-orang yang berperilaku sama pula. Karena itulah, jauh lebih penting untuk mengubah sikap dan pandangan kita daripada berusaha mengubah dunia. Seperti yang pernah dikatakan oleh Albert Einstein (www.goodreads.com, 2014) dunia sesungguhnya merupakan hasil dari proses berpikir kita. Dunia tidak bisa berubah tanpa perubahan pola pikir kita. “The world as we have created it is a process of our thinking. It cannot be changed without changing our thinking.” Jadi kitalah yang harus mengubah cara berpikir kita terhadap dunia, dengan begitu hidup ini bisa menjadi lebih mudah bagi diri kita

oleh; Johannes Chandra Ekajaya