Pengusaha Agribisnis Menjamur

Pengusaha Agribisnis Menjamur 2

Dengan adanya rencana jangka panjang untuk mengkomodifikasi pangan yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia, maka para investor yang berasal dari luar negeri segera berbondong-bondong memberikan investasi kepada negara yang diapit oleh dua samudera dan dua benua ini. Dunia yang saat ini sudah merasakan gejala dari krisis pangan global tentu saja mencari keamanan mengenai kebutuhan pangannya. Maka dari itu, meskipun sebenarnya yang dilakukan pemerintah Joko Widodo hanya menyediakan tempat saja, sedangkan teknologi dan infrastruktur berasal dari para investor, tetapi ini merupakan langkah yang berani dan vital. Oleh sebab itu, wajar saja jika pengusaha yang bergerak di sektor agribisnis begitu banyak bagaikan jamur di musim hujan. Karena bila mereka benar-benar konsisten, pangan akan menjadi komoditas yang paling diperlukan oleh dunia. Mau semaju ataupun semodern apapun negerinya, manusia tetaplah makan makanan yang berasal dari pertanian, perikanan, dan peternakan. Jadi yang diperlukan pemerintah sekarang ini ialah mengubah mindset pertanian konvensional menjadi industri pertanian.

Pengusaha Agribisnis Menjamur

Meskipun dunia mengalami fase krisis pangan, bukan berarti dunia akan mengambil makanan atau pangan secara asal. Dunia tetap akan memilih produk terbaik. Sehingga komoditas pangan ini nantinya mempunyai standarisasi yang tinggi. Maka dari itu para pengusaha pertanian dalam memperluas pasar komoditasnya harus memahami dan mengerti kegunaan teknologi terbaru dalam pembangunan pertanian. Sehingga nantinya produk yang dihasilkan akan memiliki daya saing yang tinggi. Walaupun sasaran utamanya adalah mancanegara, tetapi para pengusaha agribisnis tidak boleh pasar dalam negeri. Seperti yang dilakukan oleh pengusaha Chandra Ekajaya, ia mempunyai cara supaya produk pertaniannya direspon secara positif oleh masyarakat luas. Diantaranya ia rajin mempromosikan hasil pertaniannya dalam berbagai pameran. Hal ini juga menjawab berbagai permasalahan pengusaha agribisnis yang lain, diantaranya mengeluhkan kenapa produknya kurang direspon pasar. Chandra Ekajaya memberikan keterangan bahwa salah satu penyebab utama adalah teknologi produksi yang digunakan oleh pengusaha tersebut sering tidak terukur. Baik dalam keterjangkauan ataupun kebermanfaatan. Tidak selalu yang canggih merupakan hal yang dibutuhkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *