Si Pitung Muda Yohanes Chandra

yohanes-eka-chandra-si-pitung-muda

yohanes-eka-chandra-si-pitung-muda

Daerah Khusus Ibukota Jakarta atau Kota Jakarta, dulu lebih dikenal dengan nama Jayakarta, atau Batavia. Bahkan namanya yang sangat lama adalah Sunda Kelapa. Penduduk asli kota Jakarta dikenal dengan nama Betawi. Bahkan nama Betawi pun juga menjadi sebutan untuk kota Jakarta. Sejak dulu, kota Jakarta memang sudah menjadi kota yang ramai dan kosmopolit. Sebab banyak perantau-perantau, bahkan yang berasal dari negara asing yang datang ke kota ini.

Kota Jakarta atau Betawi pun tak lepas dari pengaruh-pengaruh budaya masyarakat yang sangat majemuk. Sebut saja budaya Jawa, Batak, Sunda, Bali, Papua, dan banyak lagi yang lainnya. Untuk budaya asing sebut saja Arab Saudi, Portugis, Belanda, Inggris, Perancis, dan Amerika Serikat.

Pada zaman penjajahan yang dilakukan oleh Belanda, ada satu pemuda Betawi yang sangat mahsyur namanya. Pemuda itu sering disebut sebagai Si Pitung. Ia adalah jagoan silat Betawi yang selalu melakukan perlawanan terhadap penjajahan Belanda. Pengusaha Yohanes Chandra Ekajaya sangat menyukai Si Pitung. Makanya ia kemudian membuka sebuah restoran khas Betawi di sebuah wilayah Kecamatan Kertek, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah.

Menurut Yohanes Chandra Eka, kuliner khas Betawi cukup banyak dipengaruhi oleh kebudayaan Tiongkok. Hal ini bisa dilihat karena kuliner Betawi banyak yang menggunakan bahan dasar tahu, dan ikan, kemudian diberika bumbu cuko atau tauco.

yohanes-eka-chandra-si-pitung-muda

Selain kebudayaan Tiongkok, kuliner Betawi juga dipengaruhi oleh kebudayaan Arab dan Eropa. Oleh sebab itu pengusaha Yohanes Chandra Ekajaya membuka restoran khas Betawi di tanah Saba supaya suasana khas bandar internasional bisa dinikmati di Wonosobo.

Salah satu makanan khas Betawi yang sangat terkenal adalah nasi uduk. Bagi Yohanes Chandra Eka, nasi uduk adalah makanan yang paling mudah dan banyak ditemui. Ciri khas dari nasi uduk adalah nasinya ditanak menggunakan santan. Beda lagi dengan nasi ulam. Kalau nasi ulam, ditanak menggunakan air biasa. Tetapi selalu ada serundeng kelapa yang menyertainya. Bukti keragaman pengaruh budaya yang mempengaruhi kuliner Betawi bisa dilihat sangat jelas melalui nasi ulam ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *