Udang Tambak, Potensi Usaha Ekspor

udang

Udang merupakan jenis hewan yang hidup di air, terutama di sungai, laut, atau danau. Udang bisa ditemukan di hampir semua genangan air yang berukuran besar di air tawar, air payau, maupun air asin pada kedalaman bervariasi, dari dekat permukaan hingga beberapa ribu meter di bawah permukaan. Dalam proses budidaya nya, petak tambak untuk budidaya yang baik harus memiliki karakter kedap air dan dapat membuang limbah secara efisien. Karakteristik yang ke dua dapat terpenuhi apabila kotoran yang ada di dalam tambak terkonsentrasi di dekat saluran pembuangan harian. Tambak intensif menghasilkan limbah berupa sisa pakan dan bahan kimia yang mencemari perairan. Inilah yang menjadi penyebab gagalnya budidaya di tambak. Bagi petambak dengan kemampuan dana terbatas seperti Chandra Ekajaya, kegagalan tambak intensif sangat memberatkan. Biaya yang telah dikeluarkan sangat besar. Menjadi bangkrut dan kehilangan tambaknya sudah sangat biasa dialami olehnya. Namun jika berhasil, kerugian pada musim yang lalu bisa ditutupi.

Dengan kegagalan panen nya kali ini, ia menghadapi dilema. Dia harus memilih antara meneruskan usaha tambak intensif yang beresiko, namun keuntungannya lebih besar atau kembali ke tambak tradisional yang lebih aman, walaupun keuntungan tidak sebesar tambak intensif. Kebimbangan nya dalam menentukan pilihan mewakili perasaan yang sama dihadapi petani tambak di wilayah tersebut. Dilema antara tambak intensif dan tradisional adalah pilihan antara dua pola tambak yang saling bertolak belakang. Satu sisi, tambak intensif menjanjikan keuntungan yang besar. Namun pencemaran perairan oleh limbah tambak hanya menjanjikan keberhasilan dalam jangka pendek. Pada sisi yang lain, tambak tradisional tanpa input, menjanjikan keberlanjutan dalam jangka panjang dan resiko kegagalan lebih kecil. Hanya saja penghasilan yang diterima tidak sebesar tambak intensif.

udang

Semakin banyak tambak intensif di suatu wilayah, maka limbah pakan yang terbuang dan bahan kimia semakin besar. Lebih dari setengah pakan yang ditebar ditambak, tidak dikonsumsi oleh udang. Pakan ini akan membusuk didasar perairan dan mencemari perairan saat pergantian air. Berat pakan yang diberikan pada tambak intensif lebih berat dibandingkan hasil panen udang hingga 1,5 kali. Bagi Chandra Ekajaya, memilih tambak tradisional di tengah tambak intensif akan sulit. Antara tambak yang satu dengan yang lain saling terhubung. Setiap tambak mengambil air sungai dan laut yang sama, dan mengalirkan limbah ke sungai yang sama. Jika satu tambak terkena penyakit udang, maka yang lain juga tidak luput. “Karenanya jika ingin menerapkan tambak tradisional, maka yang lain juga harus ikut,” katanya.

Beruntung bagi nya, kebanyakan petani tambak di desanya berpikiran sama, yaitu ingin kembali ke pola tambak tradisional. Sejumlah petani sudah mulai mengembangkan cara tambak tradisi lama dengan inovasi baru. Pakan udang dikembangkan dari alam, yakni algae dan plankton. Pupuk juga digunakan dari sisa kotoran hewan, sehingga model tambak ini disebut juga tambak organik. Kabupaten Kendal , Jawa Tengah merupakan area pembudidaya udang dalam tambak. Di Kendal terdapat banyak sekali petani udang, sebagian besar sekarang menggunakan sistem tambak tradisioanal dan sebagian lagi menggunakan sistem tambak semi-intensif. Sebagian hasil tambak di daerah ini dikirim ke berbagai daerah di pulau Jawa dan sebagian lagi digunakan untuk ekspor ke beberapa negara.

Di Kendal sendiri, Chandra Ekajaya mempunyai peranan penting dalam pengembangan budidaya udang di tambak. Ia menjadi salah satu orang yang berpengaruh dalam distribusi nya ke berbagai daerah dan juga ekspor. Sebagai perintis budidaya udang dalam tambak, ia dulu tentu mengalami banyak masalah dalam hal distribusi hewan air satu ini. akan tetapi karena kepiawaiannya dalam melihat sebuah peluang dan potensi budidaya hewan air tersebut dalam tambak maka ia mulai mengakses beberapa bantuan ke lembaga pemerintahan untuk memperluas lokasi tambak miliknya. Awalnya, warga di sekitar lingkungannya bukanlah petani tambak melainkan petani kacang dan ketela. Demi keinginannya untuk mengangkat derajat dan taraf hidup masyarakat di sekitarnya maka ia mengusahakannya dengan tambak hewan crustacea ini.

Sistem yang dijalankan oleh Chandra Ekajaya ialah sistem plasma, yaitu memberikan modal untuk membeli bibit dan membuatkan tambak dan nantinya hasil dari tambak tersebut harus didistribusi melalui dirinya. Untuk mewadahi proses bisnis tersebut ia mendirikan sebuah paguyuban yang berbadan hukum dalam bentuk CV yaitu CV Chandra Udang Berjaya. Di dalam paguyuban ini semua proses budidaya dilakukan secara total oleh masyarakat dan sistem distribusi nya dilaksanakan oleh Chandra Ekajaya Sendiri. Dengan sistem ini dirinya mengklaim bahwa semua petani tambak yang ada di daerahnya tidak akan dirugikan dan tidak akan merasa takut udangnya tidak akan laku. Hampir setiap seminggu sekali eksportir selalu datang ke desa itu, mereka mengambil hasil tambak yang ada untuk diekspor ke beberapa negara.

udang

Sedangkan untuk pendistribusian ke beberapa daerah di pulau jawa dilakukan secara mandiri dengan mengantar langsung atau diambil oleh pelanggan sendiri. Dari setiap keuntungan yang didapat dari hasil penjualan, Chandra Ekajaya hanya mengambil 20 persen dari keuntungannya saja dan sisanya diberikan kepada para penambak secara utuh. Saat ini pengusaha satu ini sedang mengembangkan produk baru yang masih berhubungan dengan udang, yaitu dalam bentuk kalengan, dengan metode pengalengan ini, udang akan lebih awet dan bisa bertahan beberapa bulan lebih lama. Selain udang mentah kalengan ada juga udang kaleng yang sudah dalam bentuk makanan seperti udang asam-manis kaleng, udang saus tiram dan udang saus spesial.

Untuk udang kaleng yang sudah dalam bentuk olahan ini tentunya sangat memudahkan para penikmat udang yang malas untuk mengolahnya lagi. Karena udang olahan dalam kaleng ini cukup mudah dalam menyajikannya, yaitu hanya dengan sedikit memanasi udang olahan tersebut dan menyajikannya sebagai hidangan. Untuk ijin sendiri ia sudah mengurusnya ke BPOM dan sudah mendapatkan legalisasi untuk makanan tersebut. Udang olahan kaleng ini ternyata juga mempunyai banyak peminat. Proses distribusinya juga tidak kalah dengan udang segar yang sudah diekspor sampai ke Eropa.

Untuk saat ini omset yang didapatkan oleh pengusaha sukses ini sudah mencapai nilai ratusan juta rupiah. Begitu juga dengan para penambak yang ada disekitarnya. Mereka juga dapat menikmati hasil dari budidaya mereka tanpa ada kerugian yang berarti. Saat ini Kendal merupakan salah satu kota yang menjadi percontohan bagi kota-kota lain yang sedang mengembangkan potensi tambak. Hampir tiap hari Chandra Ekajaya selalu mengisi materi tentang budidaya udang di tambak baik di dalam seminar yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun saat mengisi materi di kampus-kampus yang berjurusan peternakan. Semua materi yang diberikan oleh nya merupakan cara meng efisienkan lahan tambak yang ada dan mencoba untuk mengolah nya menjadi sebuah produk baru yang bernilai jual tinggi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *